Saturday, 26 May 2012

OH MAMA, OH PAPA

Putriku Maafkan Bapak Jika Tidak Mendampingimu Di Hari Wisudamu !!!
Aku Tak Bisa Ditinggal Istriku
Setidaknya Tuhan mengizinkan , aku ingin istriku tetap ada dalam hidupku. Wanita yang setia mendampingi aku selama 32 tahun. Wanita yang menjadi pokok anggur keluargaku, yang melahirkan dan membesarkan ke tujuh buah cinta kami. Aku mungkin adalah sosok laki – laki yang sangat lemah. Aku sangat bergantung pada istriku. Aku bahkan menganggapnya sebagai jantung dan nafasku. Namaku Tigor Marojahan Siahaan. Aku memiliki seorang istri yang sangat aku cintai yaitu seorang putri raja , Hotna Rouli Simanjuntak. Tuhan mengaruniakan kami 2 orang putra dan 5 orang putri. Wanita ini adalah sosok yang sangat kukagumi. Hatinya begitu lapang dan lembut. Dia selalu bisa mengelus dadanya ketika aku marah. Dia selalu bisa menenangkanku ketika hatiku gamang. Tapi sosok wanita yang sangat kubutuhkan dalam hidupku, diambil Tuhan untuk berada disebelah kananNya.
Satu tahun rasanya sangat sulit melupakan kepergian ibu anak – anakku ini. Aku merasa seolah – olah dia tidur disampingku dan aku bisa memeluknya dalam keheningan malam. Hampir setiap saat aku hanya bisa menatap photo istriku. Teringat pesan terakhirnya, pak, mama mau bapak janji pada mama, kedua putri kita harus tamat kuliah. Terutama Murni , dia harus menjadi hamba Tuhan , sejak dulu mama sudah berjanji untuk mempersembahkan salah satu anak kita untuk menjadi pelayan Tuhan. Maafkan mama jika tak bisa mendampingi bapa dalam penyelesaian kedua putri kita. Kalau suatu saat bapak tidak mempunyai uang, juallah sebagian tanah kita supaya pendidikan kedua putri kita dapat selesai. Sambil berlinang air mata aku menjawab, mama pasti sembuh kita akan bersama sama berjuang untuk menyekolahkan kedua putri kita isakku.
Ah rasanya aku tak bisa menerima kenyataan, jika ratuku itu benar benar tidak ada dalam hidupku. Nafsu makanku sangat berkurang , sesekali aku menangis sambil memegang gundukan tanah pemakaman istriku. Hingga suatu saat aku bermimpi. Istriku tercinta mendatangiku, dia memakai baju putih, wajahnya berlinang – linang dan tampak anggun. Aku segera berlari mendapatkannya, memeluknya melepas rindu. Sambil menangis tersedu sedu aku berkata, bapak mau ikut dengan mama saja. Bapak tak kuat jika mama tak ada disamping bapak. Kulihat air mata istriku berlinang, dia tidak mengatakan sepatah katapun. Sambil melepas pelukanku dia menitip sebuah surat dalam gengamanku dan kemudian hilang bak ditelan bumi. Aku terpaku dengan semua dan membuka surat pemberian istriku . Dalam suratnya aku membaca bapak harus kuat dan tegar di dalam Tuhan. Jadikanlah Yesus menjadi pendamping hidup bapak dan berusahalah agar kedua putri kita bisa tamat kuliah. Aku terbangun dengan keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhku.


Tuhan Memulihkan Jiwaku
Besok paginya aku berjiarah ke makam istriku dan berjanji akan berusaha tabah mengikhlaskan kepergiannya. Aku mulai rajin berdoa, menyerahkan semua kehidupanku di dalam Tuhan. Aku mulai melakukan hal hal yang menjadi kebiasaan aku dan istriku yaitu berdoa dan bernyanyi membaca firman Tuhan sebelum tidur dan juga sesudah bangun. Berkat Tuhan memang besar buat orang – orang lemah, miskin, janda , duda dan anak – anak yatim piatu. Tuhan memberkati buah tanganku. Sejujurnya aku hanya bisa bekerja dengan menggunakan tangan kanan. Tangan kiriku mati dan tak terlalu bisa banyak bergerak. Aku pernah menderita struk ringan dan penyakit kronis gejala paru paru. Itu disebabkan oleh rokok dan minum arak sewaktu masih muda.Ketika hasil rongten kesehatan saya keluar. Disitu ditunjukkan bahwa separuh paru paru saya berwarna sangat gelap. Oleh sebab itu disarankan janganlah merokok , karena hal itu hanya mengurangi umur, menggangu kesehatan dan membakar uang.
Sesudah putri bungsu saya lahir , saya tidak terlalu bisa bekerja. Istri sayalah yang sangat berperan dalam mendayung rumah tangga kami. Kondisi kesehatan saya terkadang amat buruk, tapi Puji Tuhan saya masih bisa membesarkan anak – anak kami. Tuhan memang sangat baik , Dia memberkati pekerjaan saya, kerbau yang saya gembalakan gemuk dan beranak, sawah saya menghasilkan panen yang baik , begitu juga dengan ladang saya. Puji Tuhan saya bisa membiayai bulanan putri saya Murni Demita Siahaan di Sekolah Bibelvrow HKBP di Laguboti. Bagi seorang petani seperti saya uang Rp 600.000/bulan amatlah besar. Untuk putri bungsuku Desi , saya hanya mengirim beras setiap bulan , karena selain tinggal di rumah pamannya , putriku itu berusaha memperoleh uang kuliahnya dengan mengajar privat ke rumah – rumah.
Pernikahan Putri Keduaku
Aku tinggal bersama putra bungsuku Bernad Aman Siahaan dan juga putri keduaku Enni Irmawati Siahaan. 3 tahun terakhir Bernad telah tinggal bersama – sama dengan kami , dia memutuskan untuk tinggal dan membantu kami orang tuanya di kampung setelah 4 tahun mengadu nasib ke Balikpapan Kalimantan. Sedangkan putriku Enni harus mengundurkan diri untuk merawat mamanya sewaktu sakit, mengingat pesan mamanya jika pun harus meninggalkanku itu dikarenakan akan menikah. Putra sulungku Jadi Chandra Siahaan, tinggal dirumah ku yang lain , kira kira 1 km dari rumah yang kudiami sekarang. Jujur saja , aku adalah sosok ayah yang sangat keras, apa yang kubilang harus terjadi. Hanya istriku yang berhati lapang yang mampu meredam amarahku . Tapi sekarang dia telah tiada.
Aku sangat sayang pada putra sulungku ini, tapi sayangnya putraku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil jerih payahku. Sering sekali dia meminta uang untuk kebutuhan istri dan anaknya. Aku sering diam – diam memberikannya tapi pada suatu saat putra bungsuku dan putriku Enni tahu akan hal itu. Sehingga mereka mengingatkanku , jikapun aku punya penghasilan fokuslah dalam melanjutkan biaya kuliah kedua putriku. Aku sangat marah dan mungkin seorang ayah tidak seharusnya mengucapkan sumpah serapah kepada putri dan anakku itu. Aku sangat menyesal dengan hal ini karena saking marahnya aku pernah menyumpahi kedua anakku ini untuk tidak menikah. Untunglah Tuhan tidak mendengar amarahku ini, seorang perjaka meminang putriku. Dia seorang pedagang di pasar Balige. 13 Februari 2010 , putriku mengakhiri masa gadisnya , aku sangat bahagia karena bisa menikahkan putriku ini. Pernikahan putriku sangat meriah, pemberkatan di gereja dan upacara adat Batak penuh. Dari segi ekonomi mertua putriku memang cukup berada.
Putra Bungsuku Dalam Penjara
Jika saja waktu bisa berputar , tak akan kuijinkan putraku untuk menjalankan judi ini. Togel adalah judi orang Batak. Putraku mengelola sebuah warung kecil – kecilan dirumahku. Semula putra bungsuku hanya mencoba menjalankan judi ini dengan menjadi tukang rekap togel . Putriku Murni sudah sering mengingatkannya bahwa judi , togel dan sejenisnya sangat dilarang oleh agama. Tapi Bernad tak pernah menanggapi hal itu , dia sering menjawab adiknya, jangan berkotbah untukku. Malam itu adalah malam yang naas bagi putra bungsuku , aku sedang tidur , istirahat di kamar . Tiba – tiba polisi mengadakan penggebrekan untuk para bandar togel. Polisi mendapatkan barang bukti nomor nomor togel di telepon gengam putraku. Malam itu juga putraku dibawa ke kantor polisi. Karena mendengar suara ribut – ribut , aku terbangun dengan tertatih – tatih aku menuju warung putraku dan orang – orang yang sedang minum arak disana menceritakan bahwa putraku telah dibawa ke kantor polisi.
Hari itu bertepatan dengan hari Raya Paskah, aku menangis di pemakaman istriku . Rasanya sangat sedih sudah setahun lebih kepergiannya tetapi cobaan selalu datang silih berganti di dalam keluargaku. Hakim menjatuhkan hukuman pidana penjara 100 hari untuk putra bungsuku. Setiap malam aku hanya bisa termenung memikirkan keadaan putraku di dalam sel. Karena peristiwa ini kondisi kesehatanku sangat turun drastis. Aku sering menghayal disawah andai istriku yang tercinta segera menjemputku untuk menemaninya di surga. Inilah mungkin disebut putus asa ataupun patah semangat dalam menjalani liku – liku kehidupan ini. Akhir Juni 2010 putra bungsuku bebas dan bisa menghirup udara segar, dan 1 Juli 2010 putriku Murni Demita Siahaan di wisuda dari Sekolah Bibelvrow dan menjadi salah seorang calon Bibelvrow. Putriku diminta untuk magang dan melayani di kampus nya dengan menjadi seorang pegawai perpustakaan.
Pada Lebaran 2010 Putri bungsuku kembali dari Medan, aku sangat bahagia . Putriku memberi tahu kalau dia sudah menjalani sidang Tugas Akhir ataupun Meja Hijau untuk jenjang pendidikan Diploma 3 . Puji Tuhan putriku lulus dengan nilai yang baik dan memuaskan. Putriku mengatakan bahwa dia akan diwisuda 23 Oktober 2010. Aku sangat senang mendengarnya , bapak pasti datang nak , bapak ingin melihat putri bapak tersayang ini di wisuda kataku sambil memeluk putriku. Aku sangat sayang sama Putriku ini, ya boru hasianku. Walau sudah cukup dewasa tapi putriku itu masih mau memijat – mijat punggungku dan juga tangan kiriku. Dia juga cukup handal dalam memasak makanan kesukaanku yaitu Dekke Naniarsik ataupun Ikan Pepes.
Maafkan Bapak Nak, Jika Tak Bisa Mendampingimu
Awal September 2010, aku mengikuti acara pemakaman salah satu penduduk kampung kami, di Tuktuk Siandong Pulau Samosir. Bernad dan Murni sudah melarang aku untuk ikut kesana, mereka khawatir akan kesehatanku. Tapi aku bersikeras untuk tetap ikut dengan alasan hanya beberapa bapak saja dari Sibuntuon yang ikut ke pemakaman itu. Pada waktu giliran waktu dan kesempatan diberikan pembawa acara kepada kami, aku bahkan membawakan sebuah lagu yaitu Di Surgo Hasonangan I = Di Surga lah Kesenangan Itu. Pada Sabtu sore 18 September 2010 , aku memaksakan diri membawa kerbauku pulang dari ladang ke kandang , padahal saat itu hujan rintik – rintik. Malam harinya badanku mulai panas dan pandangan mataku berkunang – kunang. Pagi harinya putraku memanggil bidan desa, aku diberi suntikan sebanyak 2 kali tapi panasku tak juga turun. Nafsu makan ku berkurang, aku hanya bisa memaksakan diri memakan 3 – 4 sendok bubur dan ½ gelas air putih. Mengingat kondisi yang lemah putraku meminta bidan desa untuk memasang infus di tubuhku.
Malam Sabtu 25 September 2010 aku bermimpi. Istriku tercinta mendatangiku, aku memeluknya dengan erat. Kami pun tertawa bersama. Pada saat itu istriku mengatakan , bapak temani mama saja disini, mama melihat bapak sudah cukup lelah di dalam menjalani hidup ini. Lagipula Murni sudah selesai di wisuda itu berarti tugas bapak sudah selesai. Aku menjawab istriku itu, bapak masih ingin mendampingi Desi wisuda nanti mama, dan kalau saja Tuhan ijinkan bapak ingin diberi kesempatan untuk menikahkan anak kita Bernad. Terbayang wajah putriku yang sangat sedih dengan kepergianku. Putri kesayanganku itu tidak pernah mengecewakanku. Dia berjuang keras agar tamat kuliah dan tak pernah membebaniku dalam hal biaya. Aku juga membayangkan wajah putra bungsuku yang harus menikah tanpa seorang ayah dan ibu. Sudahlah pak , bapak kelihatan susah di dunia ini, marilah kita bersama sama di surga yang indah ini, ajak istriku lagi. Aku memandang sekelilingku , surga itu memang sangat indah. Semua orang – orang percaya yang sudah meninggalkan dunia ada di rumah Bapa, tak ada tangisan dan derita semua bahagia memuji dan memuliakan nama Tuhan.
Aku Harus Meninggalkan Anak – Anakku
Pak , bangun pak aku mendengar suara putraku menepuk punggungku. Hari sudah pagi, tampak cahaya matahari masuk dari jendela kamarku. Putraku memapahku ke kamar mandi dan setelah itu menyuapiku bubur ayam. Aku mendengar bunyi lonceng gereja dan kidung pujian yang dikumandangkan dalam ibadah gereja. Malam itu putriku Enni dan menantuku datang menjengukku. Putriku menangisi keadaanku , tapi aku menghibur putriku ini dengan mengatakan keadaanku baik – baik saja. Aku bahagia , karena pada saat itu putriku sedang mengandung dan cucuku akan bertambah. Seorang ayah tidaklah pantas jika tidak memaafkan kesalahan anaknya ketika meninggalkan dunia ini. Tapi aku membawa sakit hatiku kepada putra sulungku dan istrinya ke liang kubur. Hampir satu minggu aku terbaring di rumah tapi anakku Jadi Chandra maupun istrinya tak kunjung menjenguk keadaanku. Mungkin akulah ayah yang paling malang , anak yang sudah kubesarkan dan nikahkan tidak mengasihiku. Sungguh hatiku rasanya sangat sakit dengan sikap putraku ini.
Hari itu malam rabu 29 September 2010 , bibiku Timour Siahaan menjagaku. Oh bibiku ini, dia memang sudah sangat tua, usianya sudah 88 tahun. Bibiku memang tidak menikah , aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Dengan sabar dia menjaga aku, keponakannya yang sedang sakit. Dia memanggilku sama seperti anak anakku memanggilku yaitu Bapak. Pada jam 12.00 tepat aku merasa waktu tidak lama lagi. Aku memanggil putraku bungsuku Bernad Aman Siahaan. Ah rasanya aku tidak sanggup melihat kesedihan diwajah anakku ini. Dengan terbata – bata aku mengatakan “ nak buka saja infus bapak ini pintaku. Anakku menjawab, kok dibuka sih pak, gimana kalau kita bawa saja bapak ke rumah sakit ? Ah tidak usah nak, sudahlah buka saja infus bapak ini pintaku.
Anakku pun membuka infus yang ada ditanganku, tolong duduk kan bapak nak pintaku. Bernad pun mendudukkan aku dan menyangga tubuhku. Buka dulu baju bapak, badan bapak terasa sangat panas kataku. Anakku sedikit terbengong tetapi dia melakukan perintahku. Bibi ku Timour menangis terisak – isak sambil berkata , bapak kenapa pak, jangan duluani aku pak, lihat anak – anakmu ini mereka masih sangan membutuhkan bapak tangisnya. Bibi tidak usah menangis , aku sepertinya sudah tidak kuat lagi bi kataku. Nak , tolong tidurkan bapak di pangkuanmu kataku kepada putra bungsuku. Aku pun tidur di pangkuan putraku itu. Tolong sampaikan pada adikmu Desi, bapak minta maaf tidak bisa menemani adikmu di hari wisudanya . Hiburkan hati adikmu itu nak, agar tetap kuat dan selalu bersyukur kepada Tuhan kataku dengan lemah. Bapak tidak boleh berkata seperti itu, bapak pasti sembuh jawab putraku dengan air mata berlinang.
Tidak nak , bapak sudah lelah, bapak mau istirahat menemani mamamu di surga. Jika kelak uang untuk biaya pemakaman sama adat Batak yang akan dibuat untuk bapak kurang anakku, juallah kerbau kita tuturku. Hari Kamis 30 September 2010 tepat pukul 04.30 dini hari aku merasa waktu ku sudah dekat. Kepalaku masih dalam pangkuan putra bungsuku . Nafasku semakin tidak teratur , aku memandang terus keatas dan tak berkedip. Tampak istriku tersenyum mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambut uluran tangan ratuku itu. Sebelum aku masuk ke rumah Bapa di surga aku memandang ke dunia, tampak anak – anakku menangisi kepergianku, wajah mereka sangat muram , tapi kukuatkan hatiku melihat kesedihan anak – anakku.
Maafkan bapak nak jika harus meninggalkan kalian semua. Tetaplah tegar dan berjuang , jangan melupakan Tuhan dalam setiap langkah dan gerak hidupmu. Ikhlaskanlah kepergian bapak untuk beristirahat dengan tenang di rumah Bapa di surga. Tepat pukul 5.00 subuh, aku menghembuskan nafas terakhirku dengan tenang meninggalkan anak – anakku di dalam pangkuan putra bungsuku tercinta Bernad Aman Siahaan.
In Memorial Ayahanda Tercinta : Tigor Marojahan Siahaan
( Op. Romi Siahaan)
Lahir di Sibuntuon Balige 22 November 1948
Kembali ke pangkuan Bapa Di Sorga 30 September 2010.
Note :
Daddy , It’s almost One Year
You Left Us
But Your Name Is Always In My Heart
We Trust , You And Our Lovely Mother
Have Been Happy in Beautiful Places
Namely Heaven
We Hope As Your Children
We Have Been Able To Receive The Reality
Pass This Life Without Both Of Our Parent
We Always Keep In Our Mind
Daddy Is Our Hero
Mum Is Our Light
We Do Love You Forever






No comments:

Post a Comment